Sunday, 13 January 2019

Kisah Buku-ku Desember 2018 (Pejuang Literasi IP Asia)


Alhamdulillah, pengumpulan Kisah Buku-ku edisi Desember 2018 berjalan lancar. Ada 10 kisah yang masuk ke redaksi tim Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia. Kisah ini terbagi menjadi 2 kategori, yaitu non fiksi dan anak. 

Di bulan ini, para anggota RB Literasi mengumpulkan berbagai kisah buku yang menarik untuk dibaca. Mulai dari kisah buku tentang sejarah hingga manajemen keuangan keluarga. Kisah Buku-ku ini merupakan daftar buku rekomendasi sebagai bahan bacaan tambahan bagi member IP Asia di mana pun berada. Ini daftar Kisah Buku-ku yang masuk ke tim RB Literasi IP Asia:

1. The Great Story of Muhammad, Penulis: Ahmad Hatta, dkk. (Dian Mariesta)
2. Hijrah Bang Tato, Penulis: Fahd Pahdepie. (Irma Tazkiyya)
3. #berhentidikamu, Penulis: dr. Gia Pratama. (Ananda Putri Maharani)
4. Agar Bidadari Cemburu Padamu, Penulis: Salim A. Fillah. (Anggita Aninditya P. P)
5. Saya Berubah, Penulis: Jonru. (Rifina Arlin)
6. Ayah di Madrasah Keluarga, Penulis: Cahyadi Takariawan, Salim A. Fillah, dkk. (Laily Septi Widya)
7. Menjadi Cantik, Gaya & Tetap Kaya, Penulis: Pritha Ghozie. (Khalida Fitri)
8. Wisata ke Surga, Penulis: Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. (Angie Hana Syabani Kamalia)
9. Rumahku Masih Ngontrak, Penulis: Dr. Syafiq Riza Basalamah. (Chairun Nisa RZ)
10. The Prophet’s Pond, Penulis: Zaheer Khatri. (Fiftarina Puspitasari)


Barakallah untuk kakak-kakak semua! Meski dengan berbagai rutinitas harian, namun tetap bisa berbagi kisah buku yang sudah dibaca bulan ini kepada teman-teman semua. 

Untuk menikmati Kisah Buku-ku Desember 2018 dari para pejuang literasi IP Asia,
silahkan mengunduh di link berikut: http://bit.ly/KisahBuku-kuDes18

Selamat menikmati!

Thursday, 3 January 2019

7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan oleh Alfa Kurnia - (Favorit Nulis Bareng Bulan Desember 2018)



Nulis Bareng di bulan Desember 2018 berjalan lancar. Ada 11 tulisan yang berhasil masuk ke dalam nominasi tulisan terfavorit bulan ini. Di bulan ini, para anggota RB Literasi diajak untuk berbagi kisah dengan tema "Resolusi 2019" yang merupakan hasil pemikiran dari Mbak Citra Anggita.

Selamat kakak-kakak semua! Walaupun banyak halangan, rintangan dan godaan, ke 10 kakak ini sudah berhasil menyelesaikan tulisannya tentang Resolusi 2019.



Dan…
Selamat untuk Mbak Alfa Kurnia yang sukses menjerat hati teman-teman dengan tulisannya yang berjudul “7 Cara Agar Resolusi Tahun Baru Berhasil Dilaksanakan”.

Mbak Alfa menampilkan tulisan yang mudah difahami serta dari sudut pandang yang berbeda. Keunikan inilah yang kemudian menjadikan tulisan Mbak Alfa banyak disukai teman-teman. Ditambah lagi tampilan blog yang menarik sehingga pembaca tidak cepat bosan.

Yuk kita simak tulisan Mbak Alfa Kurnia di link berikut ini:


Sekali lagi, selamat untuk Mba Alfa Kurnia. Selamat juga untuk teman-teman yang berhasil menulis di bulan ini. Semoga semangat menulis ini tetap konsisten di bulan-bulan berikutnya.

Salam Literasi!




Thursday, 6 December 2018

Yaa Rabbi Hamba Rindu oleh Geta Yuanita - (Favorit Nulis Bareng Bulan November 2018)



Bulan November menjadi bulan ke-2 dilaksanakannya kegiatan Nulis Bareng yang menjadi salah satu kegiatan di Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia. Di bulan ini, para anggota RB Literasi diajak untuk berbagi kisah dengan tema "Profesi Kita" yang merupakan hasil pemikiran dari Mbak Irma Tazkiyya.


12 orang telah berhasil masuk dalam nominasi November Nulis Bareng 2018. Tulisan para nominator ini sukses membuat banyak anggota lainnya kagum, haru hingga menambah semangat untuk bisa terus maju. Alhamdulillah, kegiatan bulan ini sudah bisa memberikan dampak yang positif baik untuk penulis maupun untuk para pembaca.



Untuk bulan November 2018, tulisan terfavorit jatuh kepada Geta Yuanita dengan tulisan berjudul "Yaa Rabbi Hamba Rindu"


Kita simak tulisan dari Mbak Geta Yuanita berikut:

Umi udah nulisnya, sekarang ngaji". "Aku dulu aku juga udah". "Aku duluan". "Aku duluan ... iyakan umi ... ?

Sungguh ramai rumah kami saat itu, penuh suara-suara kecil berceloteh. Ada yang menulis, ada yang mengobrol, ada yang menghafal, ada juga yang berantem setelah adu mulut. Saya bersabar penuh konsentrasi mendengarkan anak yang sedang membaca Iqro di hadapan. Sesekali saya menegur mereka dengan suara agak ditinggikan. Sesaat diam, tapi lima menit kemudian kembali riuh. Setelah semua murid selesai mengaji, saya kemudian berdiri, menarik perhatian mereka dengan nasyid-nasyid Islami, diselingi dengan hafalan doa harian dan surat-surat pendek. Tak lupa, ada yang spesial di kelas kami, anak-anak saya ajarkan menghafalkan ayat-ayat pendek tentang keseharian dengan memakai isyarat tangan. Mereka sangat antusias sekali. Dan untuk mengevaluasinya, saya tinggal memeragakan gerakan tangan dan mereka langsung menebak surat dan ayatnya. Maa syaa Allah ...



Tapi itu dulu. Sekarang semua seakan menjauh, tinggal kenangan indah. Banyak hal yang membuat saya tak bisa mengajar anak-anak lagi.

Dunia anak-anak memang duniaku. Sejak zaman kuliah saya mulai berkecimpung mengajar anak-anak mengaji. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat binar mata mereka saat saya ajarkan kalimat-kalimat Allah. Ada kesungguhan yang mengagumkan saat mereka dengan terbata-bata membaca huruf hijaiyah. Ada kebanggaan yang bertumpah ruah saat mereka sukses menghafal, mengerti dan faham  tentang materi yang telah kita ajarkan. Teman, semua rasa itu tak berbilang harganya.

Setelah menikah, rumah kami menjadi tempat anak-anak tetangga mengaji selepas magrib. Jika sewaktu-waktu kami telat pulang dari bepergian, mereka sudah duduk berkumpul di depan teras rumah. Pertengahan tahun 2008 kami pindah ke Qatar, dan di sini pun aktifitas saya mengajar anak-anak tidak terhenti. Semula hanya anak-anak tetangga, kemudian meluas ke komunitas. Semula hanya ada 1 kelas, kemudian berkembang menjadi 3 kelas dengan rentang usia yang berbeda-beda. Saya mengajak beberapa teman untuk ikut membantu mengajar dan membuat silabus pelajaran bersama. TPA Amanah yang kami kelola bertahan beberapa tahun, hingga akhirnya qadarullah beberapa hal terjadi.

Mudik yang Membawa Cerita
Mei 2013, ketika kehamilan anak ketiga saya berusia 5 bulan, kami mudik ke Indonesia. Rencana hanya 1 bulan saja, agar menjadi booster untuk persalinam saya nanti. Ternyata saat waktunya balik kembali ke perantauan, Al anak kedua kami  terserang diare, padahal 2 hari lagi kami harus terbang. Dengan bantuan teman, tiket suami diundur 2 hari. Tapi ternyata Al masih belum sembuh dan harus dirawat 4 hari lamanya di Rumah Sakit. Setelah berdiskusi dan melihat keadaan Al, akhirnya kami memutuskan bahwa saya dan anak-anak akan tinggal sementara di kampung halaman dan melahirkan di sana.

Saat suami tinggal sendirian di Qatar, perusahaan tempat suami bekerja mengharuskan semua karyawannya untuk pindah tempat tinggal ke compound yang baru. Karena hanya tinggal sendirian, suami mengajukan surat untuk menyewa rumah sendiri di luar compound. Dengan pertimbangan sisa uang sewa rumah bisa untuk membeli tiket lebih, agar bisa sering pulang menengok keluarga.

Saya Sakit
Benjolan payudara saya semakin membesar. Saat hamil 8 bulan saya melakukan operasi payudara dan setelah diperiksa, hasil lab menyatakan saya terkena TB payudara dan harus meminum obat TB 10 bulan lamanya. Saat anak ketiga saya berumur dua setengah bulan, suami memboyong kami semua kembali ke Qatar.

Tiga kali operasi secar dan tiga kali operasi payudara kiri sepertinya mempengaruhi kekuatan fisik saya. Mengurus 3 anak laki-laki tanpa asisten dan suami yang bekerja daily ternyata lumayan juga rasanya. Perpaduan antara kurang tidur dan kecapean menyebabkan tubuh sebelah kiri saya sering sakit, mulai dari leher, bahu, tangan dan punggung sebelah kiri, terasa berat dan ngilu. Sakitnya merambat hingga ke dada sebelah kiri. Tak hilang jika tidak berbekam (hijaamah).

Yaa Rabbi hamba Rindu
Di lingkungan baru ini saya dikelilingi tetangga Indonesia. Saat anak-anak liburan kami pernah membuat acara Diklat Anak selama beberapa hari. Setelahnya, mereka kemudian meminta saya untuk mengajar anak-anak setiap sore. Sayapun menyanggupi, 2 hari anak-anak besar dan 2 hari untuk anak-anak kecil. Baru berjalan 2 minggu hingga akhirnya saya sakit hampir selama 2 minggu juga. Suami saya bilang "umi kecapean itu ... udah umi sekarang fokus aja ke anak-anak kita, ajarin mereka aja gak usah ke yang lain dulu".

Masih penasaran, beberapa bulan kemudian saya coba kembali mengajar. Kali ini hanya anak kecil yang seumuran Al dan H. Ternyata hanya berjalan beberapa minggu juga, dan saya kembali sakit. "Makanya kata Abi juga udah, ajarin anak sendiri aja, jangan cape-cape". Suami kembali mengingatkan. "Cape apa sih Bi, perasaan umi cuma gini-gini doang, gak terlalu rajin seperti ibu-ibu lain". Jawab saya sambil memelas. Saya sesungguhnya heran dan tak habis pikir kenapa sekarang mudah sekali sakit. " Ya jangan bandingin sama orang-orang ... umi ya umi, Abi gak pernah banding-bandingin umi sama yang lain kok, kan beda, latar belakangnya pun beda". Kata suami panjang lebar.

Jadi beginilah saya sekarang, seperti kehilangan dunianya. Merasa kurang produktif dan kurang berarti. Saya ingin berbuat sesuatu untuk ummat, ikut berjuang membentuk peradaban. Ingatan saya kembali pada saat-saat menjadi mahasiswi, ikut longmarch ke ibu kota, hadir di seminar-seminar, roadshow ke berbagai majlis Ta'lim dan mengisi kajian di beberapa radio. Yaa Rabbi ... hamba kangen. Kangen dengan semua aktifitas itu. Kangen hujan-hujanan di motor saat pergi mengisi kajian. Kangen repotnya menggendong anak sambil mengajar. Kangen dengan celoteh anak-anak di TPA. Kangen melihat mata bening mereka. Dilan, rindu itu ternyata memang berat ...



Suatu malam saat menjelang subuh, kupandangi ketiga buah hati yang masih terlelap. Si sulung yang sudah beranjak remaja, kemudian Al dan H yang lagi sedang-sedangnya mencari perhatian uminya. Kesadaraanku perlahan muncul, meresap membuat pendar di hati dan pikiran. Inilah buah hatiku yang harus benar-benar ku didik dengan baik. Inilah amanah Allah yang harus selalu kujaga fitrahnya. Inilah medan jihadku, inilah tiket Surgaku. Akulah ummu, madrasatul uula wa aula.  Ibu sebagai madrasah pertama dan utama bagi anak-anakku. Mana mungkin aku menyia-nyiakan mereka dengan terus menangisi keadaan karena tak sesuai dengan inginku. Stop, aku harus move on. Saatnya berbenah diri, menggali kembali potensi, membekali diri dengan berbagai ilmu parenting untuk si buah hati.

Dan akhirnya saya menemukan IIP. Suka dengan program-programnya dan nyaman dengan komunitasnya. Semua orang punya medan juangnya sendiri-sendiri, dan inilah medan juangku. Mencetak anak-anak menjadi generasi terbaik untuk ummat ini.
Yaa Rabbii, akhirnya telah kutemukan obat rinduku, di sini di dalam rumahku ...



----------------------------------------------------------------------------------------------

Sekali lagi, selamat untuk Mbak Geta Yuanita. Yuk kita ramaikan lagi kegiatan Nulis Bareng di bulan Desember ini.

Salam Literasi!





Wednesday, 7 November 2018

Jalan-Jalan ke Istana Versailles - Perancis oleh Khalida Fitri (Favorit Nulis Bareng Bulan Oktober 2018)



Kegiatan Nulis Bareng ini mulai dilancarkan dan dilaksanakan pertama kali pada bulan Oktober 2018. Tema yang diangkat pada bulan pertama ini adalah Kegiatan Mengisi Liburan Bersama Keluarga yang merupakan ide dari salah satu anggota RB Literasi, Asmaul Husna.

Ada 23 tulisan yang berhasil masuk ke dalam nominasi tulisan terfavorit bulan ini.


Dan penulis terfavorit bulan ini jatuh kepada Khalida Fitri, Selamat untuk Khalidah Fitri⁩  yang sukses memikat hati teman-teman dengan tulisannya yang berjudul “Jalan-jalan ke Istana Versailles, Perancis”.

Mbak Khalida berhasil merangkum perjalanannya secara informatif dengan sentuhan sejarah yang mendalam tetapi tetap ringan dibaca. Foto-foto yang ditampilkan juga berhasil membuat teman-teman ingin berkunjung kesana.





Alhamdulillah, tahun kemarin saat jalan-jalan ke Prancis, akhirnya dapat kesempatan untuk mengunjungi Istana Versailles. Istana ini adalah salah satu tempat wisata historic yang ada di Prancis.  Versailles penuh dengan daya tarik karena selain bagian dari sejarah dunia, istana ini juga megah dan memiliki taman-taman yang menawan. Nanti akan saya bahas sedikit sejarah Istana Versailles, bagaimana menuju Versailles Palace, harga tiket, apa saja yang bisa kita lihat, beberapa tips, dan pengalaman saya ketika jalan-jalan ke Versailles.
Nama Versailles pertama kali saya tahu justru bukan dari buku sejarah, tapi komik zaman saya kecil dulu, judulnya “Rose of Versailles”.  Penggemar komik dan serial cantik di era 90-an pasti ngerti deh sama komik ini (ayo ngacung! Hehehe).  Dari situ saya selalu membayangkan bagaimana bangsawan dahulu di Eropa itu tinggal, rambut-rambut yang megar, gaun-gaun yang menjuntai, dan bagaimana para bangsawan itu berpesta. Baru sekitar SMA dapet pelajaran tentang revolusi Prancis, jadi makin penasaran deh sama Versailles ini. Apalagi ada kisah Maria Antoinete, sang ratu yang gemar pesta yang seolah menjadi ikon keglamoran pada masanya. Makanya ketika ada kesempatan jalan-jalan ke Paris pada September tahun lalu,  mengunjungi Istana Versailles masuk dalam itinerary perjalanan saya.
Sebelum mengunjungi suatu tempat biasanya saya suka cari tahu dulu informasi awal mengenai tempat tersebut.  Apalagi kalau tempat itu bersejarah. Enggak harus informasi yang ribet sih, yang penting sekadar tahu sedikit sejarahnya atau letaknya ada di mana. Minimal menambah pengetahuan dan bisa mandiri ke daerah tersebut. Selain itu, mendapatkan informasi atau cerita lebih awal juga akan memberi kesan tersendiri pada apa yang saya lihat. Biasanya bakalan lebih mengena dan lebih dalam melihatnya. Malah kadang, cerita di balik objek itu lebih menarik daripada objeknya itu sendiri.
Sedikit sejarah Istana Versailles (Château de Versailles)
Versailles adalah sebuah daerah sub urban di daerah Prancis. Dulunya daerah ini hanyalah sebuah desa. Kini menjadi kota administratif dan yudisial yang penting. Letaknya di pinggiran kota, yang tak jauh dari Kota Paris.
Château de Versailles adalah bagaimana orang Prancis menyebut Istana Versailles. Sementara dalam bahasa Prancis, Versailles diucapkan menjadi vɛʀsaj. Château maksudnya adalahtempat tinggal mewah yang berlokasi di pedesaan, Château berbeda sama istana yang ada di perkotaan.
Château de Versailles awalnya dibuat oleh Louis XIII sebagai tempat perisitirahatan ketika lelah berburu di abad ke-16. Sebelumnya hanya sebuah pavilliun saja. Baru kemudian pavilliun ini berubah dan diperluas oleh Louis XIV dan menjadi istana yang besar. Kemudian raja selanjutnya pun menambahkan beberapa bagian lagi, sehingga membuat istana ini tambah luas dan megah.  Beberapa kegiatan kepemerintahan pun pernah ikut dipindahkan oleh Louis XIV ini. Pergantian kepemimpinan dan tempat tinggal dari raja ke raja pun terjadi di istana ini sampai revolusi Prancis terjadi.
Tak hanya tambah megah dan besar saja, ornamen dalam ruangan istana serta barang-barang di istana pun artistik dan mewah. Namun demikian ketika revolusi Prancis terjadi karena kemarahan rakyat Prancis kepada istana yang dianggap boros dan membuat krisis keuangan, istana diserbu dan mengakibatkan beberapa ornamen rusak dan furnitur istana pun beberapa hilang.


Perabot di Istana Versailles
Setelah revolusi Prancis, Istana Versailles tak lagi menjadi kediaman kerajaan.  Istana ini sempat menjadi Museum Sejarah Prancis. Kamar-kamar istana kemudian dikhususkan untuk koleksi baru lukisan dan patung yang mewakili tokoh-tokoh besar dan peristiwa penting yang menandai sejarah Prancis. Koleksi-koleksi ini terus ditambahkan hingga awal abad ke-20.

Yang enggak bobo pas pelajaran sejarah, pasti tau dia siapa :)).
Istana Versailles telah terdaftar sebagai Situs Warisan Dunia dan sudah  berada di bawah perlindungan UNESCO selama 30 tahun. Istana ini dianggap salah satu pencapaian terbesar dalam seni abad ke-17 Prancis. Saat ini, Istana Versailles memiliki total 2.300 ruangan dengan total luas bangunan 63.154 m2. Karena awalnya diperuntukan sebagai tempat perisitirahatan, maka istana ini melengkapinya dengan taman-taman yang begitu luas dan ditata sangat cantik. Luas tamannya saja konon kurang lebih mencapai 800 hektar dengan tambahan 50 air mancur.
Bagaimana menuju ke sana?
Untuk menuju (rute) ke sana pun juga tidak sulit. Versailles terletak di sebelah barat Paris, sekitar 17.1 km dari pusat kota Paris. Untuk mengunjungi Istana Versailles dapat menggunakan transportasi publik berupa kereta. Bila teman menggunakan Eurail Pass dalam perjalanan ke Eropa, teman bisa memanfaatkannya. Kalau teman memakai jasa tur tentu akan lebih dimudahkan lagi karena teman tak perlu memikirkan akomodasi ke sana. Namun, bila teman seperti saya, yang pergi mandiri tanpa tur dan transportasinya “ketengan” alias beli point to point, juga cukup mudah kok!
Teman bisa memilih kereta lokal dengan line RER C ya. Di peta metro Paris, RER C adalah line yang berwarna kuning. Sebelumnya harus tahu dahulu datang dari mana. Kemudian baca peta metronya. Kira-kira dari mana jarak terdekat kereta RER C itu dilewati. RER C inilah yang jangkauannya sampai pinggiran kota Paris hingga ke Versailles. Stasiun terakhir RER C adalah stasiun Versailles Rive Gauche, di sinilah kita turun untuk ke Istana Versailles. Jadi gak perlu takut kelewatan. Lagipula biasanya wisatawan akan berduyun-duyun turun di sini. Tinggal ikuti saja. Kira-kira sekitar 15 menit jalan kaki akan sampai ke Istana Versailles.
Kalau bingung membaca peta metronya, coba pakai google map. Arahnya dari hotel tempat kita menginap menuju Château de Versailles. Setelah itu, baru cocokan di peta metro Paris. Perjalanan memakan waktu sekitar 50 menit dari hotel saya menginap. Sementara untuk ongkosnya kurang lebih sekitar 10 euro (agak lupa pastinya). Sampai masuk RER C udah banyak turis dari berbagai macam belahan dunia. Jadi kalau udah masuk RER C sudah tenang.
Tips : Unduh peta metro Paris dan salin direction dari hotel menuju  Château de Versailles di google map. Jaga-jaga enggak punya kuota internet saat di perjalanan.
Tiket masuk dan jam buka tutup
Tiket masuk ke Istana Versailles bisa beli online atau go show (beli di tempat). Kalau mau aman sih beli online aja dulu di http://en.chateauversailles.fr. Kalau go show bisa langsung membeli tiket melalui mesin otomatis di sana. Harga tiket masuk Istana Versailles mulai dari 18 euro hingga 27 euro. Tergantung tiket yang mana yang kita pilih. Kalau mau semua istana dimasukin termasuk dengan Musical Fountain Shows, pilih yang Passport tiket. Passport tiket cocok untuk turis yang enggak punya banyak waktu untuk bolak-balik ke istana ini. Akan tetapi, kalau enggak mau ke istananya dan cuma mau ke garden-nya aja, gratis loh! Hanya pintu masuknya berbeda. Berhubung saya suka sama kisah putri-putribangsawan, saya sih memutuskan untuk beli Passport tiket secara online.
Kalau bingung, begitu sampai di depan Istana Versailles, boleh banget minta informasi ke petugasnya. Bagian informasi ada di sebelah kiri, di depan pagar sebelum masuk istananya ya.
Di sana kita akan diberikan guide book dengan pilihan bahasa, seperti Inggris, Cina, Spanyol, dan beberapa negara lainnya, sayangnya bahasa Indonesia belum ada. Nanti sekaligus dikasih tahu tempat mana saja yang sebaiknya dikunjungi lebih dahulu.
Istana Versailles ini buka jam 09.00 pagi dan tutup di jam 18.30, dari hari selasa sampai hari minggu. Hari senin istana tutup. Jadi jangan ke sana hari senin ya!
Tips : Sebaiknya masuk website resmi chateauversailles sebelum mengunjungi istananya. Lihat dulu tiket apa yang dibutuhkan. Selain itu, teman bisa melihat ada event  tertentu apa di sana. Siapa tahu cocok dengan jadwal teman ke sana. Membeli tiket secara online juga bisa menghemat waktu.
Best time to visit
Saya ke sana di tanggal 19 September 2017, saat itu Paris sedang musim peralihan menuju musim dingin. Musim gugur ya namanya? Musim panas sih sudah lewat, namun belum masuk musim dingin. Jadi cuacanya agak mendung dan banyak angin sejuk. Mirip cuaca di Lembang, Bandung lah.  Enaknya sih, kita enggak kepanasan dan enggak terlalu kedinginan. Hanya saja karena cuaca sedang masa peralihan kadang hujan datang tak menentu.
Begitu sampai di sana juga jangan kaget karena antrian masuk yang mengular ya. Namanya juga tempat wisata dunia, pastinya banyak orang dari segala penjuru. Jadi sebaiknya datanglah di pagi hari, supaya enggak terlalu lama masuknya.
Salah satu enaknya datang ketika musim gugur, wisatawan juga cenderung lebih sedikit dibanding dengan musim panas. Sebab musim panas biasanya bertepatan dengan liburan anak sekolah dan liburan keluarga. Bagi saya pribadi best time to visit yah saat musim gugur itu, hawanya sejuk dan beruntung saat saya ke sana cuaca sedang cerah.  Mungkin berbeda-beda ya bagi orang lain.
Tips : Datanglah pagi-pagi dan kalau bisa hindari high season, seperti musim panas. Antriannya pasti lebih mengular lagi. Sekaligus menghindari “empet-empetan” di dalam istana karena berebutan poto dan ngelihat perabot istana.

Cuaca masih enggak terlalu dingin

Spot penting dan menarik dikunjungi
Setidaknya ada tiga bagian besar yang bisa kita kunjungi di dalam istana ini, yaitu Palace, Palace of Trianon and Marie Antoinette’s Estate, serta Gardens. Karena tempatnya sangat besar, enggak mungkin akan bisa di-explore semuanya dalam sehari. Meskipun demikian, setidaknya ada beberapa tempat yang sebaiknya jangan dilewatkan bila sudah sampai ke sana.
Hal yang pertama saya kunjungi, yaitu bagian Palace utama terlebih dahulu, dilanjutkan menuju Palace of Trianon and Marie Antoinette’s Estate melewati kebun-kebunnya yang luas dan indah.
Bagian Palace
Di bagian Palace ini tentu saja kita bisa melihat beragam perabot istana. Beragam lukisan-lukisan terpajang rapi, tak terkecuali dengan langit-langit ruangan. Kemewahan seolah melekat di dalam istana ini.
  • Gallery of the history of the palace
Galeri ini meliputi sebelas ruangan yang menceritakan tentang sejarah berdirinya Istana Versailes.

  • State apartments (hall of mirrors, the king chamber)
Ruangan ini adalah ruangan yang paling menarik dari semua ruangan. Hall of mirrors adalah ruangan besar dengan lorong yang panjang. Ruangan ini di desain sangat artistik. Di isi dengan lampu-lampu kristal yang dipadu dengan ornamen dinding berwarna keemasan, kesan elegan dan mewah seketika bisa kita rasakan. Sesuai dengan namanya, hall of mirrors memiliki banyak cermin.
Hall of mirrors dahulu dijadikan ruang pesta. Konon sang ratu yang tersohor tersebut sering mengadakan pesta di sini. Tak hanya itu saja, ruangan ini pun pernah menjadi saksi bisu dalam Perjanjian Versailles.
Kini selain bisa dikunjungi wisatawan, ruangan ini sering juga dipakai untuk event, seperti exhibitionbahkan sebagai venue pernikahan. Akan tetapi, enggak sembarang orang loh, yang bisa menyewa ruangan ini.

Kala saya memasuki ruangan ini, jadi serasa diundang sama Maria Antoinette ke dalam pestanya deh, hehehe.

  • Mesdame’s apartments
Ruangan ini adalah ruangan dari anak Louis XV. Anak-anak Louis XV yang berjumlah enam orang tinggal di sini. Namun hanya dua dari mereka, yaitu Adélaïde dan Victoire, yang tetap bertahan hingga revolusi Prancis.

  • Louis XIV rooms
Salah satu ruangan yang juga diminati oleh wisatawan adalah ruangan Louis XIV. Louis XIV salah satu orang yang bertanggung jawab atas ekspansi besar-besaran serta terciptanya keindahan Istana Versailles. Oleh sebab itulah, nama Louis XIV cukup berpengaruh. Kamar sang raja ini, dominan berwarna merah.  Agak sulit memfoto kamar Louis XIV dalam keadaan sepi karena banyaknya wisatawan.

Ranjang sang Raja
  • Gallery of battles
Ruangan ini dipenuhi dengan lukisan dengan aneka ragam patung. Lukisan-lukisan tersebut menceritakan bagaimana Prancis mendapatkan keemasannya. Dari segala macam peperangan penting hingga tokoh-tokoh yang berperan di sana.

Bagian Palace of Trianon and Marie Antoinette’s Estate
Palace of Trianon adalah istana khusus di luar dari istana utama. Meskipun masih dalam satu lingkup dari  Palace of Versailles. Beberapa tempat adalah ruangan dan istana khusus untuk Maria Antoinette. Tak semewah dan semegah istana utama, Palace of Trianon dan Marie Antoinette’s Estate justru lebih sederhana. Jadwal buka tempat ini setelah jam 12 siang.
  • Grand Trianon
Istana ini tidak cukup besar namun memiliki taman yang rapi.  Dengan banyak sentuhan yang berwarna merah muda, mulai dari marmer hingga pilihan perabot di dalamnya memberikan kesan Grand Trianon sebagai istana yang lebih feminin.  Teras menghadap taman dibalut dengan marmer black and whiteseperti papan catur.
Taman pun dikelilingi oleh hamparan bunga dengan puluhan ribu bunga aromatik. Bunga-bunga tersebut ditanam dalam pot dan bisa diganti setiap hari. Grand Trianon ini dulunya merupakan tempat melepas penat Louis XIV dari hiruk pikuk istana.
Beruntung ketika saya mengunjungi istana ini, hari menjelang sore dan wisatawan sudah banyak yang pulang. Sehingga tempat ini jadi lebih sepi.

Grand Trianon
  • Petit Trianon
Tadinya merupakan tempat peristirahatan Louis XV. Setelah Louis XV meninggal karena cacar, Louis XVI memberikan Petit Trianon kepada ratu mudanya, Maria Antoinette. Jauh dari kesan glamour, Petit Trianon malah lebih sederhana.  Di sinilah sang ratu menenangkan dirinya. Konon sang ratu sering merasa kesepian karena banyak intrik dalam istana. Apalagi Louis XVI sering meninggalkannya sendiri. Oleh sebab itulah, sang ratu jadi gemar mengadakan pesta.

Petit Trianon dengan hamparan dari French Garden
  • Queen’s hamlet
Tempat ini juga sering disebut dengan Hameau de la Reine.  Hameau de la Reine adalah pedesaan kecil yang dibangun di taman Château de Versailles untuk Marie Antoinette. Letaknya dekat Petit Trianon. Ratu biasanya menggunakan Hameau de la Reine  sebagai tempat pertemuan pribadi khusus untuk teman-teman terdekatnya.  Tempat ini pun sekaligus tempat rekreasi sang Ratu. Bentuk Hameau de la Reine sangat unik karena mirip di daerah pedesaaan, dengan rumah-rumah mungil yang khas.

Lucu ya, rumahnya. Ini cuma salah satunya aja loh!
Saat saya ke sana beruntung sedang ada syuting film. Meskipun kami dilarang mendekat tapi kru film mengizinkan kami untuk mengambil gambar dalam radius tertentu. Seneng banget bisa lihat pemain film berakting dengan baju-baju kunonya.

Dapat bonus lihat orang Prancis lagi syuting
  • Queen’s theatre
Tadinya enggak sengaja ketemu dengan teater ini. Letaknya agak nyempil. Meskipun sudah sore kami dipersilakan untuk masuk dan melihat teater sang ratu. Pengunjungnya juga sepi, hanya ada saya bersama suami dengan pasangan paruh baya. Jadinya kami puas menikmati teater ini. Sayangnya di dalam teater dilarang untuk berfoto.
Ini kali pertama saya melihat teater di abad ke-17. Teater itu sendiri cukup besar untuk menampung dua ratus lima puluh penonton. Dekorasi didominasi oleh warna biru, putih dan emas dengan banyak bilik-bilik dengan tira-tirai terselip. Sejujurnya saya takjub dengan teater itu dan mengakui bahwa Marie Antoinette benar-benar penyuka seni.  Berada dalam teater dengan keadaan yang sepi dan melihat ke arah kursi-kursi penonton rasa-rasanya saya jadi membayangkan bagaimana sang ratu tertawa kecil menikmati sajian seni dihadapannya.
  • Grand Trianon gardens, French garden, English garden
Hampir semua gardens dalam kawasan ini tertata rapi dan cantik. Teman bisa bersantai di sekitar sini. Paling ramai dikunjungi sepertinya English garden. Dengan hamparan padang rumput yang luas ditengahnya ada patung cupid di dalam sebuah kapel.

english garden versailles

Tips : Dari Palace menuju kawasan Trianon, bila punya budget lebih sebaiknya mengendarai semacam mobil atau sepeda atau motor yang disewakan. Soalnya letaknya cukup jauh dan bakalan lelah banget kalau jalan kaki.
Bagian  Gardens and Groves
Kebun dan taman di Versailles sangat luas dan besar sekali. Ada beberapa kebun yang memiliki show fountain di jam-jam tertentu (check website resminya). Di taman besar biasanya juga akan mengalun musik-musik klasik. Beberapa taman bahkan diperbolehkan untuk bersepeda.

Salah satu taman di Istana Versailles, cantik ya!
Cerita menarik
Ada sebuah cerita yang menarik dari Istana Versailles ini. Dalam ruangan dari kamar raja, ratu, dan keturunannya, kita tidak akan menemukan adanya toilet. Jadi raja dan ratu itu mandi di kamarnya sendiri. Biasanya mereka berendam memakai semacam bath tub atau mereka mandi kering saja tanpa menggunakan air. Soalnya zaman itu, mereka percaya bahwa air adalah salah satu yang dapat menyebabkan penyakit. Sementara itu, untuk membuang kotoran biasanya dibaskom yang kemudian baskom tersebut akan dibersihkan oleh para pengurusnya.
Makan dan sholat di mana?
Di dalam Istana dan kebunnya terdapat beberapa restoran. Akan tetapi, saya lebih memilih membawa bekal makan siang untuk dimakan di salah satu kebunnya.  Selain lebih irit dan terjaga kehalalannya, makan di kebun juga romantis banget loh, hehehe.
Untuk masalah sholat, saya dan suami sholat di kebun yang sepi dan ketutupan pohon-pohon.  Wudhu memakai air mineral yang sudah dibawa sebelumnya. Oleh karena itu, bawa air mineral lebih jika ingin dipakai untuk wudhu. Juga siapkan alas tipis sebagai sajadahnya.
***
Saya akhirnya mengakhiri  explore Istana Versailles pada sore hari. Saat itu kaki saya terasa pegal sekali karena seharian berjalan kaki. Lebih lagi, karena kesorean tidak ada kendaraan yang bisa disewakan untuk kembali ke istana utama. Akhirnya keluar lewat gate yang lain dan ternyata lebih jauh, fyuh!
Oia, teman bisa datang ke sini bersama keluarga atau teman, apalagi bagi yang suka sejarah. Kalau punya anak yang beranjak “abege” juga bisa sekalian dikenalkan mengenai sejarah Prancis. Kalau datang bersama balita juga enggak papa kok, kebunnya yang luar biasa besar itu bisa banget buat rekreasi keluarga.

Bisa juga main perahu-perahuan di kebun :).
Nah, itu tadi cerita saya mengenai mengunjungi Istana Versailles ya. Bila teman tidak berminat untuk masuk ke dalam istananya yang berbayar, di luar istana juga banyak bangunan-bangunan khas dan bersejarah lainnya yang bisa dinikmati kok.
----------------------------------------------------------------------------------------------

Sekali lagi, selamat untuk Mbak Khalida Fitri. Selamat juga untuk teman-teman yang berhasil menulis bulan di bulan Oktober. Semoga semangat menulis ini tetap konsisten di bulan-bulan berikutnya.



Salam Literasi!

Monday, 5 November 2018

Selamat Datang Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia




“Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah." - Pramoedya Ananta Toer

Alhamdulillah.. Kini Ibu Profesional Asia sudah menambah satu Rumah Belajar lagi yaitu Rumah Belajar Literasi. 

Terbentuk dari rasa ingin menjadi manusia yang tidak hilang dalam sejarah, Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia mengajak teman-teman untuk menggali potensi sehingga dapat menghasilkan karya yang tercatat dalam sejarah.

Disini, teman-teman diajak untuk mengeksplorasi dunia literasi secara lebih komprehensif. Memahami, bukan hanya membaca. Menebar manfaat, bukan hanya sekedar menulis untuk diri sendiri.

Berawal dari ide, cerita, keresahan, kegalauan, kebahagiaan dan berjuta kisah hidup lainnya, Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia siap menjadi wadah untuk teman-teman berekspresi.

VISI

Menebar manfaat kepada masyarakat melalui dunia literasi

MISI

1. Mengajak untuk lebih mengenal dan mencintai buku dan penulisan
2. Mempertajam kemampuan menulis
3. Menghasilkan karya yang bermanfaat

Kegiatan Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia


Nulis Bareng

Nulis Bareng menjadi wadah bagi para teman-teman yang ingin belajar menulis, berbagi tips menulis dan menuangkannya dalam sebuah tulisan. Setiap bulannya, 1 tema akan ditentukan oleh salah satu anggota Rumah Belajar Literasi. Walaupun terkesan mudah, tetapi kegiatan ini cukup menantang loh karena para anggota harus menulis setidaknya 500 kata. Di akhir bulan, akan ada 1 penulis terfavorit yang dipilih oleh para anggota lainnya. Seru ya?

Blogwalking Keliling Asia

Siapa bilang keliling dunia itu menghabiskan banyak uang? Tidak di Rumah Belajar Literasi. Kami mengajak para anggota untuk bisa jalan-jalan keliling Asia dengan kegiatan Blogwalking Keliling Asia. Blogwalking ini ternyata bisa memberikan banyak sekali manfaat untuk para blogger seperti menambah inspirasi untuk menulis, mempromosikan blog, menambah koneksi, backlink dan masih banyak lagi.

Kisah Buku-ku

Literasi dan buku sudah menjadi satu bagian yang tidak bisa dilepaskan. Pada Kisah Buku-ku, para anggota Rumah Belajar Literasi bisa membagikan informasi dan ulasan mengenai buku yang sudah mereka baca. Menyuntikkan semangat baca melalui kegiatan ini adalah tujuan yang ingin dicapai. Tidak hanya itu, Kisah Buku-ku kemudian disatukan menjadi sebuah e-bulletin yang terbit setiap bulannya dan bisa dinikmati tidak hanya para anggota Rumah Belajar Literasi tetapi juga anggota lainnya.

Diskusi Whatsapp

Mengangkat tema maupun isu-isu yang berkaitan dengan dunia literasi menjadi salah satu kegiatan yang dijalankan Rumah Belajar Literasi IP Asia. Membuka cakrawala tidak hanya dilakukan dengan membaca tetapi juga melalui ruang-ruang diskusi, termasuk diskusi secara online.

Semoga Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Asia bisa terus maju dan berkembang sehingga bisa bersatu menebar manfaat untuk semua.

Salam Literasi!


Saturday, 20 January 2018

"Fokus pada SOLUSI bukan pada masalah"

Di Ibu Profesional ada satu kalimat yang sangat dipahami sebagai pemantik untuk berubah yaitu,

_Fokus pada SOLUSI bukan pada masalah_

Hal ini akan berefek para ibu tidak akan lagi mengeluh, karena orang yang mengeluh adalah orang yang selalu fokus pada masalah dan tidak yakin akan solusi.

Berhenti mengeluh, segera memulai yang baru. Mengeluh hanya akan menegaskan ke banyak orang bahwa kita adalah perempuan dengan pribadi yang rapuh.

Salam Ibu Profesional, 
/Septi Peni Wulandani/ .